RSS

3 LUAR BIASA (habis...)



Tiga yang Kedua
31 Mei juga ada saja cerita bersama XI IPA, bangga bisa mengantarkan mereka sampai titik akhir gerbang menuju kelas XII IPA. Bangga karena saya bisa mendampingi kiprah mereka para mujahid-mujahidah di berbagai organisasi Ihsanul Fikri, sebut saja OSIF, OSIS, DA, Tim Olimpiade dll tapi mereka tetap berprestasi di akademik dan pribadi akhlaknya. Terima kasih atas setiap kenangan yang tercipta selama ini, canda tawa, semangat, ukhuwah, dan lamunan kalian hingga terlelap di meja kelas.. Jazakumullah atas do’a dan harapannya yang telah disampaikan. Atmosfer satu hati, satu tujuan, sukses, Allohu Akbar!

Tiga yang Terspesial
1 Juni 2013, titik awal bulan yang spesial. Betapa tidak, karena saat yang ditunggu-tunggu oleh generasi kedua SMAIT Ihsanul Fikri Mungkid apalagi kalau bukan “Akhirussanah”. Jauh hari bapak-ibu guru mempersiapkan acara akhir tahun ini, dari konsep acara dan serba-serbinya. Hari sebelum itu tiba, para siswa dengan gegap gempita menyambut pelepasan generasi Armada, terutama oleh siswa akhwat. Mereka mengadakan acara pelepasan ala kreasi mereka sendiri untuk kakak angkatan tercinta mereka, nice..! Siswa ikhwan juga tak kalah dalam menyambut acara itu, ada yang sibuk persiapan konser nasyid, menata taman panggung, dan desain panggung hingga para calon alumni dating untuk gladi prosesi wisuda.
Saat yang di nanti pun tiba, jam8 acara haflah pun digelar sebagai penyemarak pembukaan kegiatan, ada nasyid, capoeira, seni beladiri, dan tasmi’ al-qur’an. Riuh tepuk tangan di setiap penampilan dan yang lebih ramai lagi pada waktu calon alumni dipanggil untuk memasuki arena kegiatan. Haflah pun usai, dilanjutkan pembukaan secara resmi prosesi wisuda siswa yang diawali dengan tilawah, lagu Indonesia Raya, sambutan kepala SMAIT Ihsanul Fikri, Ketua Yayasan Tarbiyatul Mukmin, dan kasi SMA Disdikpora Magelang. Target lulus 100% dan sepuluh besar UN telah tercapai, bahkan mencapai peringkat enam se-Kab. Magelang dan telah diterima di UGM. Prosesi wisuda dimulai dengan memanggil satu per satu wisudawan/ti, diiringi instrumen wisuda yang buat merinding dan dilanjutkan pengucapan ikrar alumni. Beberapa dari mereka ada yang terharu sambil meneteskan air mata ketika nama dan orang tua mereka disebut waktu prosesi. Memang terasa haru tapi membanggakan.
Acara belum usai sampai disitu, dilanjutkan sambutan yang begitu menggelegar oleh perwakilan wisudawan, kemudian penganugerahan siswa berprestasi dan siswa teladan. Setelah itu, peresmian Keluarga Alumni SMAIT Ihsanul Fikri (Karismatif) dengan menerbangkan pesawat kertas oleh seluruh alumni. Sungguh antum semuanya telah membuat kami bangga dengan prestasi yang antum torehkan sehingga kami semakin cinta mengemban amanah ini.
Sekali lagi roda kehidupan akan selalu berputar, amanah yang telah lalu sudah ku pertanggungjawabkan sebaik-baiknya dengan segenap kemampuan dan kelemahan diri ini, semoga ada atsarnya. Apapun amanah selanjutnya pasti itu yang terbaik bagi diri ini, akan tetap ku ukir dengan tinta terbaik pula. Berapapun amanah yang akan ku pikul nantinya, di setiap amanah yang ada ku berikan diri ini 100% yang terbaik dengan segala daya upaya dan kekurangannya. La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim… Alhamdulillahirobbil ‘alamin.. Wassalamu’alaikum
Special Song from Maidani :
Dengan Cinta, Kita Bersama
Dengan kerja, Kita Berkarya
Dengan Harmoni, Kita satu hati
Maka kan jayalah negeri ini

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

TITIK KEHIDUPAN


Titik dapat dikatakan sebagai awal dimulainya suatu kalimat atau kisah dan bisa juga dikatakan sebagai akhir karena dapat mengakhiri kalimat ataupun suatu kisah. Manusia dapat diibaratkan sebagai titik, jika titik itu di awal maka manusia akan memulai merangkai kalimat dan kisah kehidupannya sampai titik akhir. Di antara permulaan sampai akhir kisah, manusia akan berpetualang merangkai kisahnya ada yang baik dan adapula yang buruk, tergantung goresan pena kehidupan yang ia torehkan. Jika titik itu merupakan awal garis panjang, maka arah garis dapat lurus, berbelok, naik, turun, dan bahkan tidak beraturan, itulah garis kehidupan tergantung sikap laku seseorang dalam menjalaninya. Titik bisa membentuk suatu lingkaran seperti roda yang kian lama terus berputar, kadang di bawah dan adakalanya di atas. Sama halnya dengan kehidupan, seseorang dalam mengawali hidupnya dimulai dari perjuangan terbawah yang harus merangkak, tertatih berjalan, dan sampai bisa berlari mencapai puncaknya. Seseorang yang telah mencapai puncaknya pun bisa kembali tersungkur jatuh hingga pada posisi terbawah sekalipun. Semua silih berganti karena roda kehidupan selalu berputar, entah itu kebahagiaan, kesehatan, kesempatan, kekayaan, dan kedudukan ataupun jabatan. Tidak ada yang kekal di dunia ini, apa yang dimiliki hanyalah titipan dari-Nya. Dialah Alloh Yang Maha Kekal dan Maha Kaya dari semua makhluk. Maka dari itu, wujud syukur atas segala pemberian-Nya adalah dengan menghambakan diri dengan sebaik-baik penghambaan. Semoga kita adalah bagian dari umat yang istiqomah menegakkan panji Islam sehingga selalu dalam naungan ridho dan hidayah-Nya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

For my beloved sister...Semangat SBMPTN 2013

Kerjakan soal latihan tes kompetensi dasar dan tes kompetensi IPS dalam waktu masing-masing 120 menit selama dua hari, yaitu Jum'at jam 08.00-10.00 WIB untuk tes kompetensi dasar (psikotes, matematika dasar, b. indonesia, b. inggris). sabtu jam 08.00-10.00 WIB untuk mengerjakan tes kompetensi IPS (sosiologi, sejarah, ekonomi, geografi). Kerjakan dalam rentang waktu tersebut seolah-olah sedang SBMPTN sesungguhnya dengan saingan seluruh siswa berprestasi se-Indonesia. Fokus dalam mengerjakannya dan buat suasana senyaman mungkin serta tetap jujur kerjakan tanpa buka buku. Psikotes memiliki kontribusi nilai cukup besar dalam kelulusan.
Silahkan didownload latihan TPA/ psikotes berikut ini, untuk soal klik link download ini : download dan solusinya klik link ini solusi  (jangan nyontek) bisa langsung print atau unduh tinggal pilih gambar kecil dipojok kanan atas...  untuk latihan download juga ini TPA bagian 1 dan TPA bagian 2 ada 55 soal. Kalau sudah dikerjakan TPA pertama langsung laporkan hasilnya, kemudian TPA lainnya untuk latihan. Semoga sukses selalu dan tetap semangat!!!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

ETOLOGI



ETOLOGI (perilaku)
30 12 2011
Setiap makhluk hidup akan melakukan interaksi dengan lingkungannya sejak pertama kali mereka dilahirkan. Untuk tetap eksis setiap makhluk hidup harus mampu melakukan adaptasi, baik pada tingkatan populasi maupun komunitas pada suatu biosfer.
Apabila kita melakukan eksplorasi terhadap beberapa macam interaksi makhluk hidup, banyak contoh telah di kemukakan para peniliti pada bidang perilaku hewan. Suatu spesies hewan mampu berinteraksi dengan lingkungan, hewan tersebut dapat berkomunikasi, bergerak, berinteraksi secara social dan mencari makanan. Kajian perilaku hewan merupakan salah satu aspek biologi yang telah lama di teliti, bahkan dapat dikatakan sebagai kajian yang paling tua. Dalam ilmu yang mempelajari perilaku, banyak peneliti menggunakan hewan percobaan dibandingkan tumbuhan.
Kajian perilaku dari hewan dapat dijadikan suatu “kunci” untuk memahami evolusi dan fungsi ekologi dari hewan tersebut. Robinowitz (1980) yang mempelajari perilaku macan tutul jaguar. Setelah memonitor beberapa iindividu menggunakan radio transmitter, disimpulkan bahwa jaguar merupakan hewan soliter, dan hanya melakukan kontak dengan sesamanya hanya saat musim kawin. Walaupun demikian, jaguar jantan turut berperan dalam memelihara anaknya. Selain itu, terdapat pula beberapa penemuan mengennai perilaku kawin, menvari makan, ddan berbagai aspek evolusi serta peran ekologi jaguar tersebut.
Kajian perilaku hewan pada dasarnya mempelajari bagaiman hewan-hewan berperilaku di lingkungannya dan setelah para ahli melakukan interpretasi, diketahui bahwa perilaku merupakan hasil dari suatu penyebab atau suatu “proximate cause”.
Ahli perilaku yang pernah menerima hadiah nobel adalah Konrad Lorenz, Niko Tinbergen dan Karl Von Frisch. Percobaan yang dilakukan Tinbergen dan Lorenz membuktikan perilaku “innate” (bawaan) dan bentuk perilaku yang didapatkan karena melalui suatu proses belajar yang sederhana.
Tinbergen melakukan percobaan dengan menggunakan srang tawon yang ditempatkan di tengah lingkaran bunga inus, kemudian lingkaran bunga pinus dipindahkan disamping sarangnya. Ternyata tawon tersebut kembali ketengah lingkaran, tidak ke sarang. Demikian pula setelah lingkaran bunga pinus diganti dngan lingkaran batu tanpa sarang, dan disebelahnya dibentuk segitiga dari bunga pinus dengan sarang di tengahnya. Hasilnya menunjukkan bahwa tawon kembali ke lingkaran batu, bukan ke sarang di tengah segitiga bunga pinus. Hasil tersebut menyatakan bahwa tawon dapat menggunakan suatu bentuk di tanah dan terus menjaga lingkaran tersebut dengan belajar untuk mangenal sesuatu.
Dengan memahami penyebab perilaku, kita dapat lebih mengerti peran ekologi dan bagaimana hewan menghadapi seleksi alam serta bagaimana perilaku dapat meningkatkan kebugarannya (fitness), bidang ini juga dikeal dengan istilah Ekologi Perilaku.
Perilaku Sebagai Akibat dari Pengaruh Genetis dan
Faktor Lingkungan
Bagaimana seseorang dapat bermain piano dengan baik? Hal ini dapat saja terjadi kareena baiknnya koordinasi jari dan kemampuan memainkan instrument tersebut. Tetapi pertanyaan yang kemudian muncul adalah kemapuan tersebut diturunkan atau cukup dipelajari dan dilatih?
Seringkali suatu perilaku hewan terjadi kareena pengaruh genetis (perilaku bawaan lahir atau “innate behavior”), dank arena akbat proses belajar atau penglaman yang dapat disebabkan oleh lingkungan. Pada perkembangan ekologi perilaku terjadi perdebatan antara pendapat yang menyatakan bahwa perilaku yang terdapat pada suatu organisme merupakan pengaruh alami atau karena akibat hasil asuhan atau pemeliharaan, hal ini merupakan perdebatan yang terus berlangsung. Dari berbagai hasil kajian, diketahui baha terjadinya suatu perilaku disebabkan oleh keduanya, yaitu genetis dan lingkungan (proses belajar), sehingga terjadi suatu perkembangan sifat.
Innate
Merupakan perilaku atau suatu potensi terjadinya perilaku yang telah ada di dalam suatu individu. Perilakua yang timbul karena bawaan lahir berkembang secara tepat atau pasti. Perilaku ini tidak perlu adanya pengalaman atau memerlukan proses belajar dan sering kali terjadi pada saat baru lahir dan perilaku ini bersifat genetis (diturunkan).
Insting
Insting adalah perilaku “innate” klasik yang sulit dijelaskan, walaupun demikian, terdapat beberapa perilaku insting yang merupakan hasil pengalaman, belajar dan adapula yang merupakan factor keturunan. Semua makhluk hidup memiliki beberapa insting dasar.
Pola Aksi Tetap (FAPs= Fixed Action Paterns)
FAP adalah suatu perilaku stereotipik yang disebabkan adanya stimulus yang spesifik. Contohnya saat anak burung baru menetas akan selalu membuka mulutnya, kemudian induknya akan menaruh makanan didalam mulut anak burung tersebut. Contoh lainnya adalah anak bebek yang baru menetas akan masuk kedalam air. Perilaku ini ttelah “diprogramkan sebelumnya”, dengan kata lain, tidak diperlukan proses belajar. Induk burung tidak perlu belajar memberikan makanan kepada anaknya yang beru menetas, ana bebek tidak perlu belajar berenang. Contoh lainnya seperti riyual perkawinan, mempertontonkan keindahan (kejantanan) untuk menguasai suatu area (teritori). Dan anda dapat memikirkan perlakuan lain yang merupakan FAP.
Perilaku Akibat Proses Belajar
Proses belajar seringkali diidentifikasi sebagai suatu upaya untuk mendapatkan informasi dari adanya interaksi, atau perilaku yang memang telah ada pada organism (hewan) dan cenderung memberikan pengertian dari suatu upaya coba-coba. Kita ketahui bahwa perilaku di pengaruhi factor genetik, sehingga organism (hewan) dapat memiliki hubungan dengan individu lain, dan juga dapat berhubungan dengan lingkungan. Sebagai contoh, kelulus hidupan dari suatu spesies karena mampu berkembang biak, tetapi dalam proses tersebut terlibat pula seleksi alamiah yang pada akhirnya akan mempengaruhi kehidupan organisme (hewan) tersebut.
Kisaran Belajar dari yang Sederhana Hingga Kompleks
Belajar adalah suatu perubahan dalam perilaku yang merupakan hasil dari pengalaman. Table 5.1 dibawah ini menunjukkan berbagai bentuk dari belajar yang menghasilkan jenis-jenis perilaku.
Tipe Belajar
Karakteristik
Habituasi
Hilang atau timbulnya respons kepada stimulus setelah pengulangan suatu perlakuan
Imprinting
Pada kehidupan hewan, belajar yang tidak dapat diulang dan terbatas pada suatu periode keritis tertentu, sering kali dihasilkan dengan adanya hubungan kuat antara induk dan keturunannya
Asosiasi
Perubahan perilaku yang diakibatkan dari suatu hubungan antara satu perilaku dengan system hukuman dan hadiah; dalam hal ini termasuk kondisi klasik dan belajar dengan mencoba-coba (trial and error)
Imitasi
Perilaku yang diakibatkan karena adanya proses pengamatan dan meniru individu lain
Inovasi
Perilaku yang timbul dan berkembang karena terjadi respons terhadap suatu keadaan yang baru, tanpa mencoba-coba atau imitasi; dikatakan juga sebagai problem solving
Habituasi (habituation)
Habitasi adalah suatu bentuk belajar yang paling sederhana, akan terjadi jika stimulus yang tidak berbahaya didapat oleh organisme (hewan) secra berulang-ulang, setelah terjadi stimulus tersebut maka organisme (hewan) akan mengabaikannya. Habitusi akan dihasilkan setelah organisme (hewan) belajar, sehingga akan kehilangan respons bila stimulus dilakukan berulang-ulang dan tidak membahayakan dirinya.
Contoh perilaku ini misalnya anda menyentuh atau memukul secara perlahan seekor anjing pada bagian belakangnya (ekor), maka ia akan menoleh ke belakang, bila anda memukul dengan berulang kali, maka anjing tersebut tidak akan menghiraukannya atau tidak akan menoleh. Akakn tetapi hal menarik akan terjadi bila anda memukul perlahan dibagian lain, atau anda memukl perlahan setelah beberapa hari, anjing akan memberikan respons kembali. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa respons dasar pada prinsipnnya tidak hilang, tetapi untuk sementara waktu termodifikasi karena belajar.
Imprinting
Adalah suatu pengenalan terhadap satu objek seperti induk, hal tersebut terjadi pada suatu periode kritis sesaat setelah lahir. Contohnya sekelompok angsa yang baru lahir anda beri makan atau angsa-angsa tersebut melihat suatu objek yang memberinya makan, maka anak-anak angsa tersebut akan menganggap anda atau objek tersebut sebagai induknya dan akan terus mengikuti anda atau objek. Walaupun anak-anak angsa tersebut melihat induknya yang benar, mereka akan mengabaikannya dan terus menganggap bahwa objek atau anda adalah induknya. Conto tersebut adalah hasil percobaan Konrad Lorenz yang mendapatkan hadiah Nobel karena kajian tersebut.
Perilaku imprinting dan FAP akan terjadi pada makhluk hidup walaupun stimulus yang diterimanya bukanlah yang alamiah. Misalnya induk burung akan memberi makan pada boneka anak burung yang membuka mulut pada sarangnya. Anak-anak angsa akan mengikuti boneka angsa dewasa yang diberi makan di belakangnya.
Asosiasi atau Pengkondisian (Associative Learning)
Definisi asosiasi atau pengkondisian adalah perilaku yang disebabkan oleh suatu hasil dari suatu respons terhadap kondisi-kondisi tertentu, baik kondisi tersebut diketahui atau tidak. Kondisi penyebab prilaku tersebut dikatakan pula sebagai stimulus. Respons adalah sesuatu yang di produksi atau dihasilkan karena adanya stimulus. Perilaku ini dapat dibagi menjadi:
A. Pengkondisian Klasik (Classical Conditioning) atau Perilaku Asosiatif.
Contoh yang paling banyak digunakan adalah hasil percobaan Ivan Pavlov (ahli fisiologi perilaku dari Rusia) yang menggunakan bel untuk anjing. Bila bel berbunyi, anjing tersebut diberi makan, sebelum menyantap makanannya, anjing tersebut mengeluarkan saliva. Beberapa saat setelah itu, walaupun tidak ada makanan, sesaat setelah mendengar bunyi bel yang sama, anjing tersebut tetap mengeluarkan salivanya.
B. Pengkondisian Operant (Operant Conditioning)
Perilaku ini lebih merupakn hasil kondisi yang disebut mencoba-coba atau “trial and error”. Semakin dekat individu mendapatkan respon dengan adanya stimulus positif, maka induvidu tersebut akan semakin mudah mengulang keberhasilan respon yang dilakukan. Perilaku ini termasuk dalam melatih seekor hewan. Dapat juga terjadi pada seekor hewan yang semakin lama semakin sedikit mengeluarkan energinya untuk mendaptkan makanan. Perilaku ini sering kali dijumpai pula pada hewan yang tidak akan mengulangi perbuatannya karena ternyata perbuuatan tersebut dapat membahayakan dirinya.
Imitasi
Berbagai jenis hewan dapat melakukan perilaku sebagai akibat dari pengamatan dan meniru hewan lainnya. Perilaku tipe ini banyak dipelajari pada burung, akan tetapi perilaku imitasi terbatas oleh suatu periode kritis tertentu. Banyak hewan predator, termasuk kucing, anjing dan serigala kelihatannya belajar dasar taktik berburu dengan mengamati dan menirukan induknya. Pada beberapa kasus, factor genetis dan mencoba-coba dalam tipe belajar ini memegang peran penting.
Inovasi atau “Problem Solving” atau “Insight Learning”
Inovasi atau disebut juga “reasoning” adalah suatu kemampuan untuk merespons sesuatu terhadap keadaan baru dan dilakukan dengan tepat. Perilaku tipe ini terjadi pada proses belajar dan merupakan perilaku yang memiliki kualitas tinggi pada organisme (hewan). Perilaku ini berhubungan dengan kemampuan organisme (hewan) untuk melakukan pendekatan terhadap suatu situasi yang baru dan dapat menyelesaikan masalah yang terjadi. Intinya, setiap organisme (hewan dan juga manusia) dapat memiliki perilaku tertentu atau bertindak untuk melakukan sesuatu dengan alasan tertentu atau berfikir. Subjek dari inovasi adalah penyelesaian masalah, sehingga tipe perilaku ini sering pula diberi istilah “problem solving”.
Perilaku Merupakan Refleksi Evolusi
Dari penjelasan sebelum ini, dapat dikatakan bahwa perilaku adalah suatu adaptasi evolusi yang menyebabkan terjadinya suatu peningkatan kelulus hidupan dan kesuksesan reproduksi serta kebugaran. Walau demikian, perilaku juga merupakan suatu hasil pengaturan dari hewan terhadap lingkungan dengan cara seleksi alam. Pada bagian berikut, kita akan membahas peran ekologi dari suatu perilaku hewan sehingga dapat hidup sukses di lingkungan.
Ritme Biologi
Banyak jenis hewan mamalia seperti kelelawar, harimau dan bangsa kucing kurang aktif pada siang hari dan makan saat matahari tenggelam atau aktif malam hari. Akan tetapi, banyak jenis burung tidur pada malam hari dan banyak melakukan aktivitas pada siang hari. Pola hidup yang berulang-ulang setiap hari, seperti siklus tidur atau bangun pada makhluk hidup disebut Ritme Sikardian (Cycardian Rythms). Pada tanaman dan juga makhluk hidup lainnya, ritme biologi dikatakan juga dengan istilah Jam Biologi. Penyebab eksternal, khususnya siklus cahaya dapat mengatur waktu, membuat tubuh memiliki koordinasi ritme dengan ketat. Selain factor lamanya organisme didedahkan pada periode terang gelap tertentu, temperature juga berperan dalam ritme biologi.
Kepentingan mempelajari ritme biologi, waktu dan petunjuk serta faktor yang menyebabkannya sudah banyak dilakukan peneliti karena erat kaitannya dengan waktu kerja efisien, serta kemampuan dalam berfikir serta dalam membuat keputusan. Para pekerja malam, atau mereka yang melakukan perjalanan dengan pesawat terbang dari satu benua kebenua lain yang melintasi beberapa zona waktu yang berbeda, dapat menyebabkan keletihan, hingga mengurangi kemampuan bekerja, bahlan dapat menyebabkan depresi. Hal tersebut disebabkan oleh adanya gangguan pada ritme biologi internal.
Mekanisme Bergerak
Hewan dan tumbuhan atau organ dari suatu organisme tersebut memiliki cara khusus saat melakukan pergerakan. Telah dikehaui bahwa terjadinya pergerakan khusus karena adanya aksi atau stimulus sehingga suatu organisme bergerak, yaitu:
- Kinetis
Kinetis adalah suatu perubahan acak (random) dalam kecepatan dan atau arah dari suatu organisme sebagai respons terhadap stimulus. Misalnya adanya pergerakan karena terjadinya kondisi lingkungan yang tidak sesuai. Seperti beberapa kumbang yang sangat aktif di daerah kering dan kurang aktif di daerah lembab.
- Taksis
Taksis sangat spesifik, berhubungan langsung sebagai akibat adanya suatu stimulus. Pergerakan organisme (keseluruhan) dapat kea rah stimulus maupun menjauhi stimulus. Misalnya larva lalat rumah akan bergerak menjauhi arah cahaya (fototaksis negative), perilaku ini kemungkinan terjadi karena larva tersebut dapat berlindung dari musuh alaminya. Banyak tumbuhan melakukan pergerakan ini karena adanya stimulus cahaya (foto), arus (rheo), angin, gravitasi, air dan lain-lain.
- Kelompok (Group)
Pergerakan secara berkelompok yang terjadi pada banyak hewan dikenal dengan istilah migrasi. Hal ini, biasanya dipengaruhi oleh adanya perubahan cuaca atau musim, dan lebih khusus lagi perilaku ini berpengaruh untuk mendapatkan sumber makanan, daerah atau tempat untuk kawin, dan lain-lain.
Migrasi banyak terjadi pada berbagai jenis burung, serangga, seperti beberapa jenis kupu-kupu, berbagai jenis ikan dan mamalia lain. Pada dasarnya hewan melakukan migrasi karena telah mengenali daerah perjalanan mereka, dan hal ini dilakukan dengan adnya “piloting”, orientasi dan navigasi. Hewan dapat melakukan migrasi dengan adanya pengenalan suatu cara di atas atau kombinasi dari ketiganya.
Komunikasi
Komunikasi pada umumnya terjadi diantara sesama spesies, misalnya untuk mengenali pasangan kawin. Pada hewan-hewan social komunikasi dilakukan sebagai salah satu cara untuk mengetahui koloninya. Komunikasi dapat pula terjadi untuk menghndari bahaya.
Komunikasi dapat terjadi melalui perantara senyawa kimia menggunakan Feromon, yaitu senyawa kimia yang disekresikan keluar tubuh organisme dan dapat dikenali (melalui bau, dimakan, dan lain-lain) oleh sesama spesies dan akan berguna untuk berbagai kehidupannya, misalnya untuk kawin, tempat berkumpul (agregasi), menemukan makanan, mengenali koloni, adanya bahaya, dan lain-lain.
Selian itu, komunikasi juga terjadi secara visual, hal ini banyak terjadi pada saat sesama spesies mengenali pasangan kawinnya atau saat mempertahankan daerah teritori. Komunikasi dengan suara (auditory communication) sangat banyak dilakukan oleh hewan, misalnya untuk mengetahui derah teritori, untuk mengenali sesame spesies dan digunakan untuk mengetahui sumber makanan dan untuk melakukan perkawinan, hingga untuk menginformasikan adanya bahaya. Sebagai contoh yang telah banyak ditelaah adalah adanya suatu hipotesis tarian lebah sebagai alat komunikasi untuk mengetahui sumber makanan.
Perilaku Sosial (Sicial Behavior)
Secara umum didefinisikan bahwa perilaku sosial adalah segala macam dari interaksi diantara sesame spesies yang melibatkan antara dua atau lebih individu organisme (umumnya hewan). Hal ini didasari adanya perilaku individu yang dilakukan karena perilaku individu itu sendiri dan perilaku dari kelompok (grup). Perilaku sosial dapat pula terjadi karena interaksi anggota dari berlainan spesies. Adanya perilaku sosial sebagai akibat dari kompetisi sering terjadi dalam dunia hewan, misalnya untuk memperebutkan sumber makanan, dan lain-lain.
Agonistik
Perilaku agonistik adalah perilaku agresif yang pada dasarnya dilakukan untuk dapat lulus hidup (survival). Perilaku agonistik ini pada umumnya merupakan ritual, memperlihatkan kekuatan, dan keindahan (dapat berupa suara, tubuh dan lain-lain). Sering kali terjadi pula perkelahian yang tidak mematikan, walaupun pada beberapa spesies perkelahian dapat terjadi hingga terjadi kematian.
Perilaku agonistik terjadi pula untuk menarik pasangan kawinnya, banyak jenis burung jantan melakukan hal tersebut dengan mengeluarkan suara yang indah dan khusus, adapula yang melakuakan tarian dan mempertontonkan keindahan tubuhnya untuk menarik pasangannya.
Banyak hewan sosial yang melakukan kelangsungan hidupnya dengan memelihara adanya perilaku agonistik. Misalnya berbagai jenis ayam, apabila beberapa anak ayam yang tidak saling mengenali ditempati bersama, mereka akan melakukan respons dengan melakukan perkelahian kecil dengan saling mematuk. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya konflik, pada akhirnya akan akan terjadi suatu hirarkki (dominasi hirarki), misalnya yang lebih tua akan mengontrol yang lainnya.
Teritori
Perilaku untuk mempertahankan daerah edar atau tteritori merupakan suatu usaha organisme (hewan) untuk mempertahankan adanya tempat sumber makanan, tempat untuk aktifitas reproduksi dan kesuksesan dalam memelihara anak atau keturunannya. Perilaku tersebut biasanya dipertahankan melalui berbagai cara komunikasi dan perilaku lainnya. Walaupun tidak semua spesies hewan memilki teritori tertentu, dan tidak selalu seleksi alam dapat memberikan adanya daerah teritori yang tepat bagi suatu jenis hewan.
Altruistik
Perilaku altruistik atau altruisme kelihatannya merupakan perilaku yang sering dikatakan sebagai “perilaku non egois”, perilaku ini banyak dilakuakan oleh hewan-hewan yang berkoloni. Individu yang melakuakan perilaku ini tidak mendapatkan keuntungan, bahkan dapat mematikan dirinya, akan tetapi perilaku ini akan memberikan keuntungan bagi kelompoknya atau koloninya, sehingga terjadi peningkatan kebugaran dari koloni terssebut.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS